Langsung ke konten utama

Penerimaan Peserta Didik Baru Ma’had Al Zaytun Tahun Ajaran 2026/2027 Berlangsung Tertib dan Terpadu

Penerimaan Peserta Didik Baru Ma’had Al Zaytun Tahun Ajaran 2026/2027 Berlangsung Tertib dan Terpadu









Kedatangan Peserta Didik Baru

Ma'had Al-Zaytun, 23 Juni 2026 - Ma’had Al Zaytun kembali melaksanakan rangkaian Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) Tahun Ajaran 2026/2027 yang dimulai pada Selasa, 23 Juni 2026 hingga Sabtu, 27 Juni 2026, termasuk pelaksanaan bagi peserta susulan. Kegiatan ini dikhususkan bagi calon pelajar baru jenjang Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan calon pelajar baru Madrasah Ibtidaiyah (MI) maupun jenjang sederajat.

Pelaksanaan PPDB dipusatkan di Gedung Tan Sri Datuk Ismail dan Pendopo Ma’had Al Zaytun. Selama proses penerimaan, para calon pelajar bersama wali mengikuti sejumlah tahapan yang telah disusun secara sistematis sebagai bagian dari proses seleksi sekaligus administrasi awal sebelum resmi menjadi bagian dari keluarga besar Ma’had Al Zaytun.

Rangkaian kegiatan diawali dengan proses registrasi dan administrasi, dilanjutkan dengan pengambilan pas foto, tes wawancara, pemeriksaan kesehatan, tes baca tulis, serta tes baca Al-Qur'an (qiraah). Setelah seluruh tahapan tersebut diselesaikan, peserta mengikuti prosesi akad sebagai bentuk pengesahan sebelum melanjutkan proses penempatan ke asrama masing-masing.


Administrasi


Tes Kesehatan

PPDB tahun ini diikuti oleh calon pelajar dari berbagai wilayah koordinator di Indonesia, di antaranya Jakarta (Jakarta Pusat, Jakarta Timur, Jakarta Selatan, Jakarta Barat, dan Jakarta Utara), Jawa Barat Utara, Jawa Barat Selatan, Jawa Tengah, Jawa Timur, Banten, wilayah luar Pulau Jawa, hingga peserta yang berasal dari luar negeri, yaitu Malaysia. Keberagaman asal peserta ini kembali menunjukkan luasnya jangkauan kepercayaan masyarakat terhadap sistem pendidikan yang diterapkan di Ma’had Al Zaytun.

Tes Wawancara

Di tengah pelaksanaan penerimaan peserta didik baru, sejumlah wali santri turut menyampaikan kesan positif terhadap lingkungan pendidikan Ma’had Al Zaytun. Umi Sutartik, Koordinator Wali Santri Wilayah Jakarta Selatan, menilai bahwa sistem pendidikan berasrama di Ma’had Al Zaytun mampu membentuk karakter pelajar melalui pembiasaan hidup disiplin, kemandirian, pembatasan penggunaan gawai, serta penerapan pola hidup sehat melalui penyediaan konsumsi yang berkualitas.

Sementara itu, antusiasme juga ditunjukkan oleh para pelajar baru yang datang dari berbagai daerah. Mereka melihat Ma’had Al Zaytun sebagai tempat yang tidak hanya memberikan pendidikan akademik dan keagamaan, tetapi juga membuka ruang yang luas untuk mengembangkan minat, bakat, dan potensi diri melalui berbagai program yang tersedia.

Melalui penyelenggaraan PPDB yang tertib, terstruktur, dan melibatkan peserta dari berbagai daerah bahkan mancanegara, Ma’had Al Zaytun kembali menegaskan komitmennya dalam menghadirkan pendidikan yang berorientasi pada pembentukan karakter, pengembangan kompetensi, serta penyiapan generasi yang siap menghadapi tantangan masa depan.


Copyright Informasi Publikasi OPMAZ DB 23 - Forum Studi Jurnalis©

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kodrat Alam dan Kodrat Zaman: Pilar Pemikiran Pendidikan Prof. Dr. Sutrisna Wibawa, M.Pd.

  Kodrat Alam dan Kodrat Zaman: Pilar Pemikiran Pendidikan Prof. Dr. Sutrisna Wibawa, M.Pd. Ma’had Al-Zaytun, 02 Juni 2025  – Al-Zaytun menyelenggarakan pembukaan pelatihan pelaku didik yang diselenggarakan di Masjid Rahmatan Lil ‘Alamin pada 01 Juni 2025, Prof. Dr. Sutrisna Wibawa, M.Pd. membawakan materi yang mendalam tentang dua konsep utama Pendidikan, yaitu: “Kodrat alam dan Kodrat Zaman”. Materi ini menjadi pijakan penting bagi para pelaku didik untuk menciptakan sistem pendidikan yang manusiawi dan adaptif terhadap zaman. Prof. Dr. Sutrisna Wibawa, M.Pd. pernah menjabat sebagai Rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dari tahun 2017 hingga 2020 dan kini aktif sebagai Ketua Dewan Pendidikan Daerah Indah Yogyakarta (DIY) dan dikenal sebagai sosok yang peduli terhadap pengembangan karakter dan budaya melalui pendidikan Prof. Dr. Sutrisna Wibawa, M.Pd. Memberikan materi   Dalam pemaparannya, Prof. Dr. Sutrisna Wibawa, M.Pd. menjelaskan bahwa kodrat al...

Rumah Produksi Ungkap Alasan Buat Upin dan Ipin Botak

  Figure 1 Rumah produksi, Les' Copaque, mengungkapkan alasan membuat Upin dan Ipin botak serta yatim piatu. Foto: (dok. Les' Copaque Production via YouTube) Rumah produksi Les' Copaque (LCP) blak-blakan mengenai asal usul Upin & Ipin. Salah satunya adalah alasan membuat Upin dan Ipin botak hampir di seluruh musim dan episode serial animasi tersebut. Les' Copaque mengatakan dua hal mendasari kepala anak kembar tersebut botak, yakni bujet dan waktu pengerjaan. "Ketika Upin & Ipin Musim 1 dihasilkan, pihak LCP terpaksa memendekkan kos dan mempercepatkan proses pembuatan," cuit Les' Copaque pada Senin (17/1). Nak buat rambut (hair simulation) ketika itu terlalu memakan masa. Maka, Upin dan Ipin direka botak tetapi Upin ada sehelai rambut," tulis mereka. Namun, LCP pernah menampilkan Upin dan Ipin dengan rambut lebat. Hal itu terlihat jelang penayangan musim ke-14 beberapa waktu lalu.  Begitu juga ketika Upin & Ipin Musim 1 dihasil...

Mengenal Ibu Kasur, Pencipta Lagu Anak yang Jadi Google Doodle

  Foto: Wajah Bu Kasur pada Gambar Google Doodle Wajah Bu Kasur menjadi sosok yang ditayang dalam Google Doodle pada 16/1/2022. Bu Kasur sendiri dikenal sebagai seniman dan tokoh pendidikan kenamaan di Indonesia. Bu Kasur lahir dengan nama Sandiah di Jakarta, 16 Januari 1926. Ia bersekolah di Meer Uirgetreid Lager Onderwijs (Mulo) tahun 1930. Bu Kasur lebih dikenal dengan nama tersebut setelah menikah dengan Pak Kasur yang bernama asli Soerjono. Mereka berdua merupakan pasangan suami istri pencipta lagu anak-anak yang rutin tampil di berbagai acara televisi serta radio . Kisah Hidup Bu Kasur Berikut adalah kisah hidup bu Kasur yang dilansir dari laman Kem end ikbud . Bu Kasur mengelola TK Mini pada tahun 1965. TK tersebut juga meluluskan tokoh-tokoh Indonesia seperti Presiden Megawati Soekarnoputri, Guruh Soekarnoputra, Hayono Isman, dan Ateng.   Kala itu TK Mini terbagi menjadi tiga jenjang yaitu Parkit untuk anak berusia tiga tahun, Kutilang untuk usia empat ta...